Di sini, di tempat ini gue bener-bener gak bisa jadi diri sendiri selain di rumah. Dalam empat tahun gue gak bisa mengekspresikan apa yang biasanya ada di dalam diri gue dan gue malah merasa jadi orang yang tertutup.
Gue yang sebenarnya adalah orang yang sangat suka bercanda dan gak terlalu pemilih dalam berteman, bahkan sama sekali gak pernah menganggap orang lain sebagai saingan. Awal mula pindah ke tempat ini gue yang sebagai orang perantau, berharap bisa berteman akrab dengan orang-orang yang juga perantau (ada dalam satu circle). Ya, di awal perkenalan semua terasa baik aja. Bahkan kami pun sempat mengobrol banyak hal. Tapi ternyata hanya sampai di situ aja. Setelah ada pertemuan lagi dengan yang lain, gue mulai merasa seakan dikucilkan. Dia hanya menyapa teman yang saat itu kebetulan pergi sama gue. Oke gapapa. Lanjut, gue bertanya akan satu hal yang sedang menjadi obrolan mereka karna gue kurang tau apa yang mereka obrolkan, tapi gak ada jawaban. Sehingga gue mencari-cari jawaban sendiri dengan mendengarkan obrolan dari mereka. Pokoknya gue mulai dibuat gak nyaman dengan satu orang itu. Satu hal lagi yang dia lakukan dan membuat gue agak sakit hati dibuatnya, dia hanya mengajak berfoto dengan satu teman lainnya, padahal di situ ada gue juga dan saat itu hanya kami yang cewek bertiga. Tapi gue yakinin diri yaaa udah hal sepele aja kok ngapain juga terlalu dipikirin.
Dan itu berlangsung ke kejadian-kejadian selanjutnya, seperti gue gak pernah diajak untuk ikut nongki sama mereka. Kalopun kami dan teman yang lain sedang ada pertemuan, gue sebagai orang yang baru pindah ke sana mencoba untuk mengakrabkan diri lagi. Tapi ada satu orang yang seakan ingin sekali membuat gue jauh dengan teman yang lain, dan dia selalu berusaha membuat perhatian orang-orang hanya tertuju sama dia. Gue gak pernah maksa orang untuk suka sama gue, karna gak semua orang memiliki frekuensi yang sama dengan sifat atau sikap gue selama ini. Jadi gue minta diri gue untuk gak usah terlalu mikirin hal-hal itu.
Ternyata sikap dia begitu gak cuma sekali dua kali aja, tapi selalu! Cara-caranya makin terlihat jelas seakan ingin sekali menutup gue untuk gak deket sama yang lain. Iya, gue selalu dibuat mati kutu dengan obrolan yang dia buat. Mau ikut obrolan pun gue bingung harus gimana.
Datanglah orang-orang baru lainnya. Ah seneng banget rasanya bisa punya teman baru lainnya. Tapi rasa seneng itu cuma sesaat aja. Haha! Entah kenapa kok gue makin dikucilkan di circle itu :( Apalagi ada satu orang baru lainnya yang ternyata 'dekat banget' dengan orang itu dan mulutnya jahat banget. Iyaa, pada suatu kejadian gue hanya memberikan saran pada sebuah kegiatan, tapi malah dikasih jawaban yang gak ngenakin banget. "Kamu kalo merasa keberatan, gak usah ikutan juga gapapa". Padahal yang membuat kegiatan itu memperbolehkan siapapun untuk memberikan saran. Gue cuma kasih saran biasa, dan ngomongnya pun sambil bercanda. Tapi jawabannya sangat culas. Sakit hati yang udah gak ketampung lagi. Gue tetap mengikuti kegiatan itu meskipun dengan perasaan yang kecewa
"Sebenarnya gue salah apa sih kok sampe diperlakukan seperti ini ya? Tapi diajak nongki sama mereka aja gue engga, cuma awal-awal doang."
Pertanyaan-pertanyaan itu malah makin muncul di pikiran gue selama di sini. Dan entah kenapa gue malah jadi makin menutup diri dari mereka. Ngajak ngobrol yang lain jadi ragu-ragu, bercanda juga penuh dengan rasa hati-hati karna takut salah ngomong, mau kasih saran lagi takut dikasi jawaban yang gak ngenakin. Iya, sebegitu hebatnya sikap mereka ke gue sampe gue jadi manusia yang tertutup seperti itu. Bahkan gak cuma di circle itu aja gue merasa begitu, tapi sampe ke lingkungan tempat tinggal gue juga.
(Part 1)